TAKARAWA62
Yang Unik dari Sumba, Beristri 12, Anak 52, Cucu 218 dan Cicit 3

Takarawa62. Bila Anda berpeluang ke Pulau
Sumba di Nusa Tenggara Timur, Anda coba bertanya tentang Bapak Matheus
Deta Raya. Semua orang pasti tahu, karena pria kelahiran Wainyapu 5 Mei
1945 itu adalah Kepala Desa (Kades) di Desa Waiha, Kodi Balaghar, Sumba
Barat Daya. Masyarakat menyeganinya, karena meski hanya tamatan SMP, ia
cukup mampu menjalankan tugasnya sebaga Pak Kades, sapaan masyarakat
setempat untuknya.
Tapi yang tak kalah membuatnya kesohor adalah
kehidupan pribadinya. Ia punya 12 istri yang total memberinya 52 anak,
218 cucu dan 3 orang cicit. Benarkah itu? Ya, demikianlah adanya lelaki
tinggi bertubuh gempal yang senang makan sirih seperti kebiasaan
masyarakat setempat lainnya.
Menikah 12 Kali Berturut-turut

Matheus
belakang hari setelah semakin berumur, ia tinggal bersama istri ke-12
bernama Yusnita Dadi Mema. Sesekali istri keempatnya, Maria Muda Ngila,
sering main di situ, karena ia tak punya anak, sehingga ia membagi kasih
sayangnya kepada anak-anak Yusnita-Matheus. Uniknya, anak-anak Matheus
dari istri-istri yang lain, juga betah tinggal di sana. Jadilah rumah
itu seperti asrama tempat penampungan anak-anak. Di ruang tamu yang
menyatu dengan ruang keluarga itu, mereka ada yang ngobrol, bercanda,
makan, minum susu atau bahkan bermain,
Di satu sisi, Matheus
merasa bangga bisa memperistri 12 orang sekaligus. Tetapi di sisi lain,
menyesalinya, karena memberi cap buruk baginya sebagai lelaki lupa
daratan. Selain juga tanggung jawab yang disandangnya besar sekali. Ia
merasa dikejar-kejar rasa berdosa. Karena itulah kini ia acap bertobat
dengan menggelar pesta adat, sekaligus membersihkan kampung dengan
memotong 44 ekor ternak kerbau.
Menikah pertama saat umur 20 tahun
dengan Maria Wonda Ngura (wafat—Red) pada 1960. Kemudian menikah lagi
berturut-turut, satu sampai 2 kali dalam setahun. Mereka adalah Ribka Ra
Borak, Tiala Loghe, Maria Muda Ngila, Dorkas Kali Ghoba, Loghe Rehi,
Pati Kaka (wafat—Red), Boro Muda (wafat—Red), Boro Gheda, Maria Wora
Pati, Maria Wonda Mete dan terakhir Yusnita Dadi Mema. Di antara mereka
kakak beradik, yakni istri ke-2 dan ke-6, serta istri ke-4, ke-5 dan
ke-7.
Mereka rukun, kompak dan saling menyayangi. Tidak cemburu
meski Matheus lebih sering bersama istri ke-12 tahun-tahun terakhir.
Mereka bersikap positif kepada Yusnita sejak awal pernikahan. Bahkan
istri tertua ikut pergi membayar belis (mahar) saat Matheus
mempersuntingnya. Kini tak hanya para istri yang ikhlas menolongnya,
tetapi juga anak-anak mereka yang berjumlah puluhan untuk membantu ibu
tirinya itu di sawah. Apa sih daya tarik Matheus?
Yusnita,
satu-satunya istri yang lulusan SMA, mengaku terpikat pada Matheus
karena ia tampan dan gagah, terutama kalau sedang memakai kalambo
(berpakaian adat) lengkap dengan selempang dan ikat kepala. Kami semua
mencintai dan menghormatinya. Mereka semua mau menenun kain khusus untuk
sang suami.
Punya Kiat Tersendiri

Matheus
bukan orang kaya raya, tapi ia berusaha memenuhi kebutuhan material dan
spiritual ke-12 istrinya. Di awal rumah tangga, istri ke-1 hingga ke-4
tinggal serumah, tapi punya kamar sendiri-sendiri. Matheus mengatur
sampai kini ia tidur sendiri di kamar pribadinya. Seiring bertambahnya
jumlah istri dan anak, begitu ada uang, ia mendirikan rumah, juga
memberi sebidang kebun dan ternak bagi masing-masing istri. Ini semua
jadi sumber mata pencaharian bagi tiap keluarganya.
Yang menjadi
pertanyaan orang, sebelum berdiri di masing-masing rumah, bagaimana
Matheus dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami. Ia menyusun jadwal
untuk tiap istri. Ketika giliran ‘piket’, istri tersebut mendatangi
kamar Matheus. Kini, setelah berumur, Matheus tak bisa lagi berkeliling
menyambangi 8 istri yang masih ada, karena cukup melelahkan. Ia lebih
sering di rumah istri ke-12, dan baru berkumpul semua saat ada acara
keluarga atau hari besar. Kegiatannya sebagai kepala desa, tiap pukul 5
pagi, berkeliling kampung dengan berjalan kaki, dan kembali ke rumah
pukul 7 pagi. Begitu terus.
Rahasia Matheus membuat para istrinya
setia adalah, bagaimana ia membuat semua istri merasa diistimewakan.
Dicontohkannya, saat tiga istri berkumpul dengannya, kebetulan ia hanya
membeli sirih pinang dan 12 batang tembakau. Bila dibagi tiga,
masing-masing istri mendapat empat batang. Pemberian yang sepele.
Akhirnya sirih pinang itu disembunyikannya.
Dengan
sembunyi-sembunyi, Matheus memberi empat batang sirih pinang ke istri
yang satu, dengan pesan agar ia tak cerita-cerita kepada istri yang
lain. Pesan serupa diulanginya ke kedua istri tersebut, sambil berpesan
‘Jangan bilang ke yang lain ya’ dan ‘Karena aku cinta kau, maka kuberi
kau sirih pinang ini. Jangan kasih tahu yang lainnya.’ Hati
masing-masing istri merasa berbunga-bunga, lalu bercerita kepada
keluarga mereka betapa Matheus lebih mencintai mereka daripada
istri-istri yang lain. Padahal cinta Matheus tidak pilih kasih dan
membeda-bedakan.
Tak Niat Berpoligami
Meski
nyatanya telah 12 kali menikah, Matheus mengaku tak pernah punya niat
berpoligami. Semua terjadi karena murni jatuh hati, juga menolong
keluarga yang susah, dan juga menambah tenaga kerja untuk menggarap
kebun-kebun miliknya. Berhektar tanah, kata Matheus, dapat dikerjakan
bersama. Apalagi sekarang masing-masing istri dan anak-anaknya mengurus
kebun sendiri-sendiri.
Adakah keingininan Matheus menikah lagi? Ia
menolak, karena telah membuat pemulihan atau gelar pesta adat sebagai
bentuk pertobatan. Ia merasa capek juga menjawab pertanyaan orang yang
ingin tahu rahasia kejantanannya. Pasalnya, ia tak punya ajimat atau pun
ramu-ramuan khusus untuk vitalitasnya sebagai pria. Menurutnya, yang
dilakukan selama ini hanyalah menjaga kebugaran fisik dengan berjalan
kaki pagi hari, lalu tiba di rumah mandi air dingin. Juga makan cukup
gizi dan sayur mayur.
Utamakan Pendidikan Anak-anak

Kini
ada 52 anak Matheus dari perkawinannya. Mereka telah besar dan sebagian
bisa mencari nafkah sendiri. Tapi sewaktu mereka masih kecil, jumlah
anak yang banyak sekali itu tentu memusingkan kepala Matheus. Tapi dari
ceritanya, ia tetap optimis. Dan kebetulan fisiknya juga masih kuat,
sehingga kuat bekerja keras di kebun. Dasarnya, dia juga tak pernah bisa
diam. Selalu saja ada yang dibuatnya untuk menambah penghasilan bagi
keluarga.
Meski memiliki banyak anggota keluarga, mereka tak
pernah kelaparan. Kebutuhan keluarga selalu tercukupi dengan hasil panen
sebanyak 12-15 lumbung padi. Ini yang membuat keluarga mereka bertahan.
Di
samping menanam padi sendiri, mereka juga beternak angsa, ayam, babi,
kambing dan kerbau. Tidak banyak kawanan ternaknya, tapi cukuplah untuk
menghidupi keluarga. Dengan hasil ternaknya, kebutuhan keluarga akan
gizi juga dapat dipenuhi. Mereka juga berkebun cendana, jati dan mahoni
yang diketahui memiliki nilai jual yang baik. Pengelolaan semua itu tak
lagi menjadi tanggung jawab Matheus, tetapi telah diteruskan ‘tongkat
estafet’nya kepada anak-anak yang telah besar dan dinilainya mampu
menangani pekerjaan berat itu. Anak-anak bertanggung jawab membantu ibu
masing-masing.
Sementara gajinya sebagai kepala desa dipegangnya
sendiri. Itu ditujukan untuk membiayai kebutuhan keluarga bila terjadi
hal-hal yang tidak terduga. Misalnya, ada istri atau anak yang sakit,
Matheus yang membiayai pengobatannya.

Perhatian
Matheus sendiri saat ini tercurah untuk pendidikan anak-anak
keturunannya. Dari 52 anak itu belum ada yang jadi sarjana. Daniel
Anaote, anak dari istri pertamanya, pernah kuliah di Kupang, Nusa
Tenggara Timur tapi berhenti di tengah jalan. Keinginan Matheus
anak-anaknya jadi orang, bekerja dengan baik. Karena itu ia sangat
mendukung anaknya, Yusnita Anaote, yang ingin melanjutkan pendidikan
dari Sekolah Menengah Kejuruan bidang kesehatan di SMK Pancasila ke
perguruan tinggi di Malang, Jawa Timur. Beberapa anaknya terus
bersekolah, di antaranya di Sekolah Menengah Pertama.
Pendidikan
anak menjadi prioritas Matheus untuk menjadi generasi yang maju dan
tangguh. Ia yakin cita-citanya memperjuangkan pendidikan anak-anaknya
akan berhasil. Terlebih jika ia melihat perjalanan hidupnya sendiri. Dia
hanya memiliki ijazah SMP, tapi ia mampu memenangkan pilkada sehingga
menjadi Kepala Desa selama puluhan tahun. Sebelumnya, ia diangkat
menjadi Kades menggantikan ayahnya, Kades Martinus Marum Hemba, yang
meninggal dunia saat menjabat. Matheus sendiri waktu itu adalah
Sekretaris Desa.
Dengan riwayat dirinya yang beristri 12 orang
itu, bagaimana sikap Matheus jika ada di antara anak-anak atau cucunya
yang ingin mengikuti jejaknya? Matheus sejujurnya tak berani melarang,
tetapi bila ada yang ingin punya istri 1-4 orang, dia meminta mereka
mengurus kewajiban membayar belis sendiri. Seperti aturan ayahnya, ia
juga melunasi belis untuk pernikahan ke-2 hingga terakhir. Ayahnya hanya
membayar belis untuk pernikahan yang pertama. Bila mampu, terserah,
katanya. Belis untuk mempersunting istri sebanyak 10 ternak, bisa 5 ekor
kuda dan 5 ekor kerbau. (1003)
Sumber : http://kabarinews.com/kisah-yang-unik-dari-sumba-beristri-12-anak-52-cucu-218-dan-cicit-3/58398
Suku Sumba berada di
Pulau Sumba yang menduduki wilayah Kabupaten Sumba Barat, Sumba Barat
Daya, Sumba Tengah dan Sumba Timur. Sebagai suku yang berdiam di Nusa
Tenggara Timur yang masuk ke dalam gugusan Austronesia, suku Sumba
memiliki bahasa daerah yang masuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia.
Dalam perkembangannya bahasa daerah membentuk beberapa logat atau
dialek. Bahasa Sumba mempunyai suatu ciri karakteristik, yaitu bersifat
setngah vocal. Hanya sebagian dari erbendaharaan kata yang akar katanya
merupakan huruf mati.
Dengan huruf-huruf, /h/, /k/, /l/, /ng/, /r/, /s/, /t/. semua akar kata
yang berhuruf matu itu berubah mnjadi huruf hidup dengan tambahan aksara
/u/, /0/, dan /a/. lafal dalam logat Sumba Barat Daya ialah /o/,
lafal dalam logat Sumba Tengah /a/ dan lafal dalam logat Sumba Timur
/u/.
Berikut contoh lafal dari berbagai daerah di Sumba
Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur Arti
Logat Kodi Logat Mamboro Logat Kambera Bahasa Indonesia
bandolo lepeto
pato banjala lapita
pata bijalu lapitu
patu jalan gunung melipat
empat
Logat Sumba Barat dan Sumba Barat Daya yang paling populer dalam arti
bahwa logat itu dapat dipahami, dimengerti oleh sebagian terbesar
penduduk yang menghuni berbagai daerah Sumba Barat dan Sumba Barat Daya
ialah logat wewewa, Loura, Loli dan Tana Righu.
Tetapi hal tersebut tidak berarti bahwa di seluruh daerah Sumba Barat
dan Sumba Barat Daya hanya terdapat sebuah logat saja. Di Sumba Barat
Daya terdapat logat lokal. Yaitu, logat kodi. Di Sumba Barat logat
lamboya, logat wanokaka. sedangkan di Sumba Tengah terdapat logat
Anakalang dan Mamboro.
Adapun logat Sumba Timur yang paling populer ialah logat Kambera. Malah
logat Kambera ini juga dipahami, dimengerti oleh sebagian penduduk Sumba
Tengah dan Sumba Barat. Logat Kambera dipahami dan dimengerti oleh
penduduk daerah Anaklang dan Wanokaka.
Daerah di mana penduduk dapt memahami, mengeri logat Wewewa dan logat
Kambera bahkan dapat secara aktif mengucapkan kedua logat itu ialah
penduduk daerah Ponduk.
Lafal logat Kambera, sebagain besar tidak mengenal palatal, yaitu aksara
/nj/, /j/, /ny/. Aksara /s/ dalam logat Kambera diucapkan sebagai
aksara /h/. contoh kata kabisu diucapkan [kabihu]. Dalam loga Mamboro,
logat Loli, logat Anakalang, dan logat Lamboya, aksara /s/ tidak berubah
dalam ucapan. Dalam loga Wewewa, logat Laora, aksara /s/ diucapkan
sebagai aksara /z/. Tapi logat Kodi mengucapkan aksara /s/ menjadi /h/
seperti halnya dalam ucapan logat Kambera. Bahasa Sumba tidak mengenal
kelamin kata dan juga tidak mengenal kelas kata.
Berikut perbedaan logat masing-masing daerah
Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur
Arti
Logat Kodi Logat Wawewa Logat Anakalang Logat Kambera
Huhu Kabihu susu kabisu zuzu kabizu huhu kabihu susu kelompok
kekerabatn (clan)
Hubungan sejarah Sumba di masa lampau dengan sendirinya memperkaya
perbendaharaan kata-kata bahasa Sumba. Bahasa-bahasa Nusantara yang
banyak memperkaya perbendaharaan kata-kata bahasa Sumba, antara lain
bahasa-bahasa Sulawesi, Makassar-Bugis, bahasa Jawa dan bahasa melayu
yang lebih tua bila dilihat dari hubungan sejarahnya, masih terus hidup
dalam bahasa Sumba.
Copy and WIN :
hhttp://bit.ly/copynwin
Suku Sumba berada di
Pulau Sumba yang menduduki wilayah Kabupaten Sumba Barat, Sumba Barat
Daya, Sumba Tengah dan Sumba Timur. Sebagai suku yang berdiam di Nusa
Tenggara Timur yang masuk ke dalam gugusan Austronesia, suku Sumba
memiliki bahasa daerah yang masuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia.
Dalam perkembangannya bahasa daerah membentuk beberapa logat atau
dialek. Bahasa Sumba mempunyai suatu ciri karakteristik, yaitu bersifat
setngah vocal. Hanya sebagian dari erbendaharaan kata yang akar katanya
merupakan huruf mati.
Dengan huruf-huruf, /h/, /k/, /l/, /ng/, /r/, /s/, /t/. semua akar kata
yang berhuruf matu itu berubah mnjadi huruf hidup dengan tambahan aksara
/u/, /0/, dan /a/. lafal dalam logat Sumba Barat Daya ialah /o/,
lafal dalam logat Sumba Tengah /a/ dan lafal dalam logat Sumba Timur
/u/.
Berikut contoh lafal dari berbagai daerah di Sumba
Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur Arti
Logat Kodi Logat Mamboro Logat Kambera Bahasa Indonesia
bandolo lepeto
pato banjala lapita
pata bijalu lapitu
patu jalan gunung melipat
empat
Logat Sumba Barat dan Sumba Barat Daya yang paling populer dalam arti
bahwa logat itu dapat dipahami, dimengerti oleh sebagian terbesar
penduduk yang menghuni berbagai daerah Sumba Barat dan Sumba Barat Daya
ialah logat wewewa, Loura, Loli dan Tana Righu.
Tetapi hal tersebut tidak berarti bahwa di seluruh daerah Sumba Barat
dan Sumba Barat Daya hanya terdapat sebuah logat saja. Di Sumba Barat
Daya terdapat logat lokal. Yaitu, logat kodi. Di Sumba Barat logat
lamboya, logat wanokaka. sedangkan di Sumba Tengah terdapat logat
Anakalang dan Mamboro.
Adapun logat Sumba Timur yang paling populer ialah logat Kambera. Malah
logat Kambera ini juga dipahami, dimengerti oleh sebagian penduduk Sumba
Tengah dan Sumba Barat. Logat Kambera dipahami dan dimengerti oleh
penduduk daerah Anaklang dan Wanokaka.
Daerah di mana penduduk dapt memahami, mengeri logat Wewewa dan logat
Kambera bahkan dapat secara aktif mengucapkan kedua logat itu ialah
penduduk daerah Ponduk.
Lafal logat Kambera, sebagain besar tidak mengenal palatal, yaitu aksara
/nj/, /j/, /ny/. Aksara /s/ dalam logat Kambera diucapkan sebagai
aksara /h/. contoh kata kabisu diucapkan [kabihu]. Dalam loga Mamboro,
logat Loli, logat Anakalang, dan logat Lamboya, aksara /s/ tidak berubah
dalam ucapan. Dalam loga Wewewa, logat Laora, aksara /s/ diucapkan
sebagai aksara /z/. Tapi logat Kodi mengucapkan aksara /s/ menjadi /h/
seperti halnya dalam ucapan logat Kambera. Bahasa Sumba tidak mengenal
kelamin kata dan juga tidak mengenal kelas kata.
Berikut perbedaan logat masing-masing daerah
Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur
Arti
Logat Kodi Logat Wawewa Logat Anakalang Logat Kambera
Huhu Kabihu susu kabisu zuzu kabizu huhu kabihu susu kelompok
kekerabatn (clan)
Hubungan sejarah Sumba di masa lampau dengan sendirinya memperkaya
perbendaharaan kata-kata bahasa Sumba. Bahasa-bahasa Nusantara yang
banyak memperkaya perbendaharaan kata-kata bahasa Sumba, antara lain
bahasa-bahasa Sulawesi, Makassar-Bugis, bahasa Jawa dan bahasa melayu
yang lebih tua bila dilihat dari hubungan sejarahnya, masih terus hidup
dalam bahasa Sumba.
Copy and WIN :
hhttp://bit.ly/copynwin